Prabowo Minta BRIN Kembangkan Teknologi Atasi Karhutla
- Redaksi
- Sabtu, 29 Agustus 2026 00:39
- 26 Lihat
- Nasional
Jakarta, Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan dan menyiapkan berbagai opsi teknologi untuk membantu mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, arahan Presiden Prabowo tersebut menjadi dasar bagi BRIN untuk mencari dan mengembangkan solusi berbasis teknologi yang dapat digunakan dalam penanganan karhutla. “BRIN diminta untuk mencari opsi-opsi teknologi yang bisa mengatasi bencana karhutla ini,” ujar Arif di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8).
Salah satu teknologi yang telah dimiliki dan dikembangkan BRIN adalah teknologi modifikasi cuaca. Menurut Arif, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menghasilkan hujan buatan di wilayah yang membutuhkan, terutama dalam kondisi karhutla.
“Memang kami juga sudah punya teknologi untuk modifikasi cuaca,” katanya.
Arif menjelaskan, teknologi modifikasi cuaca dapat dilakukan dengan menggunakan material natrium klorida (NaCl) berukuran 25 mikron. “Di mana itu teknologi yang sangat-sangat efisien untuk membuat hujan buatan,” jelasnya.
Selain teknologi yang telah tersedia, BRIN juga akan terus mengkaji dan mengembangkan berbagai teknologi terkini yang dinilai dapat mendukung upaya penanganan karhutla. “Teknologi modifikasi cuaca dengan berbagai teknologi terkini itu saya kira bisa kita lakukan,” kata Arif.
Selain teknologi modifikasi cuaca, BRIN juga tengah mengkaji metode pemadaman api menggunakan tepung yang sebelumnya telah dipraktikkan di masyarakat.
Arif mengatakan, BRIN memiliki tugas untuk menguji secara ilmiah berbagai praktik atau teknologi yang berkembang di masyarakat. Pengujian tersebut diperlukan untuk mengetahui efektivitas metode tersebut sekaligus menentukan kemungkinan penerapannya dalam skala yang lebih besar.
“Tugas BRIN itu memang segala praktik yang ada di masyarakat, yang sudah dipraktikkan, kita kaji secara saintifik, benar apa tidak,” ujarnya.
Menurut dia, teknologi atau metode yang muncul dari masyarakat tidak serta-merta ditolak, melainkan perlu divalidasi melalui kajian ilmiah. Dari hasil kajian awal, penggunaan tepung untuk membantu memadamkan api dinilai memiliki dasar secara teori.
“Jadi, teknologi-teknologi yang muncul dari masyarakat coba kita validasi. Nah, ternyata memang secara teori, hipotesis, yes, betul,” ungkapnya.
Meski demikian, tantangan utama saat ini adalah bagaimana menerapkan metode tersebut untuk menangani kebakaran dengan cakupan yang luas. Karhutla dapat melanda area yang sangat besar sehingga efektivitas suatu metode dalam skala kecil belum tentu dapat langsung diterapkan dalam kondisi sebenarnya.
“Tapi yang sekarang harus kita pikirkan adalah untuk skala berapa? Ya kan skala kebakaran hutan kan luas sekali,” tutur Arif.
Karena itu, BRIN bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kini tengah menyiapkan kajian dan melakukan uji coba untuk mengetahui sejauh mana metode tersebut dapat diterapkan pada skala kebakaran yang lebih besar.
Arif berharap rangkaian penelitian dan pengujian tersebut dapat segera menghasilkan teknologi atau metode yang efektif untuk mendukung penanganan karhutla di Indonesia. “Mohon doanya, mudah-mudahan ini bisa cepat berhasil,” pungkasnya