Lagu Lir-Ilir: Nyanyian Sunan Kalijaga yang Tak Pernah Usang oleh Zaman di Era Modern
- Redaksi
- Jumat, 19 Juni 2026 09:43
- 84 Lihat
- Nasional
Bekasi, Media Budaya Indonesia.Com - Di tengah derasnya arus modernisasi dan kehidupan yang serba cepat, warisan budaya Nusantara masih menyimpan pesan-pesan spiritual yang relevan untuk direnungkan. Salah satunya adalah tembang Lir-Ilir, karya yang secara luas diyakini berasal dari Sunan Kalijaga, salah seorang tokoh penyebar Islam di Tanah Jawa.
Melalui artikel reflektif yang ditulis oleh Ir. Zen Zainul HP., CWC., CHt., tembang yang telah berusia ratusan tahun itu dipandang bukan sekadar karya seni tradisional, melainkan sarana dakwah yang mengandung ajakan untuk membangkitkan kesadaran spiritual manusia.
Dalam tulisannya, Zen menafsirkan bait demi bait Lir-Ilir sebagai simbol perjalanan manusia dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurutnya, kalimat pembuka "Lir-ilir, lir-ilir" merupakan seruan agar manusia bangkit dari kelalaian dan mulai menumbuhkan kembali nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
"Pesan yang terkandung dalam tembang ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama hayat masih dikandung badan," tulis Zen.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus adalah simbol buah belimbing dalam bait 'penèkna blimbing kuwi'. Dalam tradisi penafsiran budaya Jawa-Islam, buah belimbing yang memiliki lima sisi kerap dimaknai sebagai perlambang rukun Islam maupun kewajiban salat lima waktu. Simbol tersebut menggambarkan pentingnya keteguhan dalam menjalankan ajaran agama sebagai pedoman hidup.
Selain itu, bait yang mengisahkan pakaian yang robek atau dodotira kumitir bedhah ing pinggir ditafsirkan sebagai gambaran kondisi manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Karena itu, manusia diajak untuk terus melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan memperkuat kualitas ibadah serta hubungan sosial dengan sesama.
Menurut Zen, pesan moral yang terkandung dalam Lir-Ilir tetap relevan di tengah tantangan kehidupan modern. Kesibukan, tuntutan pekerjaan, dan berbagai persoalan sosial sering kali membuat manusia kehilangan ruang untuk merenung dan mengevaluasi perjalanan hidupnya.
"Tembang ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar kepentingan duniawi, tetapi juga mempersiapkan bekal spiritual sebagai bagian dari perjalanan manusia," ujarnya pada Jumat (19/6/2026)
Sebagai salah satu karya budaya yang terus hidup di tengah masyarakat, Lir-Ilir tidak hanya menjadi bagian dari tradisi seni dan musik Jawa, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai moral, kebijaksanaan, dan spiritualitas yang melintasi zaman.
Melalui refleksi tersebut, masyarakat diajak untuk kembali memahami makna yang terkandung dalam warisan budaya bangsa, sekaligus menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, pesan utama Lir-Ilir adalah ajakan untuk senantiasa memperbaiki diri, memanfaatkan waktu yang masih tersedia, dan menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Sebuah pesan yang tetap relevan bagi setiap generasi.
(Sumber Zen Zainul/*REd)