Puber Kedua Emak-Emak: Antara Aktualisasi Diri dan Tuntutan Zaman
- Redaksi
- Sabtu, 31 Januari 2026 11:39
- 43 Lihat
- Nasional
JAKARTA, Media Budaya Indonesia.Com - Istilah pubertas selama ini lekat dengan masa remaja, fase transisi menuju kedewasaan yang kerap ditandai gejolak emosi dan pencarian jati diri. Namun, seiring berkembangnya teknologi digital dan media sosial, muncul fenomena baru yang belakangan ramai diperbincangkan warganet, yakni apa yang kerap disebut sebagai puber kedua, yang justru banyak dialami kalangan ibu rumah tangga, Sabtu (31/1).
Media sosial menjadi ruang paling nyata untuk melihat perubahan tersebut. Sejumlah emak-emak yang sebelumnya dikenal sederhana, cenderung tertutup, dan fokus pada urusan domestik, kini tampil lebih percaya diri di ruang publik digital. Mereka aktif membuat konten, melakukan siaran langsung dalam durasi panjang, hingga berinteraksi intens dengan pengguna lain melalui kolom komentar dan caption yang ekspresif.
Fenomena ini tidak muncul tanpa latar belakang. Bagi sebagian ibu, media sosial menjadi sarana hiburan sekaligus pelepas penat setelah menjalani rutinitas rumah tangga bertahun-tahun. Platform digital juga membuka ruang aktualisasi diri yang sebelumnya sulit diakses, terutama bagi perempuan yang lebih banyak beraktivitas di ranah domestik.
Selain itu, tidak sedikit pula yang memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai peluang ekonomi. Melalui live streaming, hadiah digital, hingga kerja sama promosi, media sosial perlahan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi sebagian keluarga.
Namun demikian, kemunculan fenomena ini menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian warganet menilai perilaku tersebut berlebihan dan dianggap kurang sesuai dengan norma yang selama ini dilekatkan pada peran ibu rumah tangga. Di sisi lain, banyak pula yang memandangnya sebagai bentuk kebebasan berekspresi serta hak individu untuk menikmati hidup tanpa dibatasi usia maupun stereotip sosial.
Pengamat sosial menilai fenomena puber kedua tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola interaksi masyarakat akibat kemajuan teknologi. Media sosial dinilai telah mengaburkan sekat usia dan status sosial, serta memberi ruang yang relatif setara bagi siapa pun untuk tampil, bersuara, dan memperoleh pengakuan.
“Ruang digital memungkinkan individu membangun identitas baru. Bagi sebagian perempuan dewasa, ini menjadi kesempatan untuk mengekspresikan diri setelah lama berada di balik peran domestik,” ujar seorang pengamat sosial.
Salah satu pelaku konten media sosial, Siti (42), mengaku awalnya hanya menjadikan aktivitas live streaming sebagai hiburan. Namun seiring waktu, aktivitas tersebut justru memberinya jejaring pertemanan baru sekaligus tambahan penghasilan.
“Awalnya cuma iseng untuk mengisi waktu luang. Lama-lama jadi senang karena bisa kenal banyak orang dan sedikit membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Terlepas dari pro dan kontra yang menyertainya, fenomena puber kedua pada emak-emak menjadi cerminan perubahan zaman. Media sosial tak lagi menjadi milik generasi muda semata. Kini, para ibu pun ikut meramaikan ruang digital dengan gaya, cerita, dan ekspresi mereka sendiri.
(NK)