Di Tengah Gejolak Global, Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga

  • Redaksi
  • Selasa, 05 Mei 2026 23:27
  • 89 Lihat
  • Nasional

Jakarta, Media Budaya Indonesia. Com - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5,5% pada Triwulan I 2026. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa target tersebut dapat tercapai, Senin (4/5). 

Realisasi investasi pada Triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp 498,79 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan (year on year). Belanja modal pemerintah pusat juga meningkat 36,7% secara tahunan menjadi Rp 35,42 triliun pada Triwulan I 2026.

Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga berada di zona ekspansi sepanjang Triwulan I 2026, yaitu 52,6 pada Januari, 53,8 pada Februari, dan 50,1 pada Maret.

Posisi kredit investasi pun melaju pesat 20,85% secara tahunan menjadi Rp 2.726,9 triliun pada Triwulan I 2026.

Kemudian berdasarkan pengumuman berbagai indikator perekonomian yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (4/5), secara umum ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah gejolak global. Kinerja ekspor Indonesia juga tetap kuat.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa nilai ekspor kumulatif periode Januari-Maret 2026 mencapai USD 66,85 miliar atau naik 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong dengan pertumbuhan nilai ekspor 3,96 persen menjadi USD 54,98 miliar. 

Sementara nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Maret 2026 sebesar USD 61,30 miliar, atau naik 10,05 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. 

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif periode Januari hingga Maret 2026 surplus sebesar USD 5,55 miliar. Sejak Mei 2020, Indonesia sudah surplus neraca perdagangan 71 bulan berturut-turut.

“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/5).  

Pergerakan masyarakat pada Januari-Maret 2026 juga menunjukkan peningkatan signifikan. Tercatat ada 319,51 juta perjalanan wisatawan nusantara dalam 3 bulan pertama di 2026, naik 13,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

Momentum ini menunjukkan aktivitas ekonomi tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus mencerminkan daya beli yang terjaga.

Adapun inflasi bulanan April 2026 tercatat sebesar 0,13% dan 2,42% secara tahunan. Ateng mengatakan kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor dominan. 

Meski begitu, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi 0,20 persen. Penurunan harga ini memberi kontribusi menahan inflasi secara keseluruhan.

“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” tutup Ateng.

(*)

Di Tengah Gejolak Global Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga#Media Budaya Indonesia. Com

Komentar

0 Komentar